Para Penyelamat Bakrie
Saat Tertimpa Krisis Utang dan Kepercayaan

1951

1951


PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) berdiri 13 Maret 1951 dengan nama "N.V. Bakrie & Brothers."

1989

1989

Initial public offering (IPO) BNBR di Bursa Efek Indonesia (waktu itu masih bernama Bursa Efek Jakarta) pada 28 Agustus 1989. Saat itu, BNBR menawarkan 2,85 juta lembar saham dengan harga Rp 1.000 per saham.

1990

1990-1996


  • Sampai dengan 8 November 1996, total saham BNBR menjadi sekitar 1,93 miliar.
  • PT Bumi Modern Tbk (BUMI), cikal bakal PT Bumi Resources Tbk, perusahaan yang bergerak di bisnis hotel IPO di bursa 28 Agustus 1989.
  • PT Bakrie Sumatra Plantations Tbk (UNSP) IPO di Jakarta, pada 8 Januari 1990.
  • PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) IPO di BEI 13 Oktober 1995.

1997

1997-1998

  • Sebelum 1998, BNBR sudah akrab dengan utang. Berdasarkan laporan keuangan BNBR 1997, beberapa pihak yang menopang perseroan dengan memberikan pinjaman modal kerja seperti Bankers Trust Far East Limited, Chase Manhattan Bank N.A, American Express bank dan Deutsche Bank A.G. Untuk mendanai proyek rumah beton yang digarap anak usahanya, Bakrie Brycon Indonesia, Agustus 1997, BNBR mendapat pinjaman sindikasi yang dikoordinasi American Express Bank senilai US$ 23,5 juta.
  • Krisis moneter dan depresiasi rupiah menyebabkan utang BNBR membengkak dari Rp 2,7 triliun menjadi Rp 9,7 triliun
2000

2000-2001

  • BNBR menerbitkan sekitar 36,81 miliar saham Seri B senilai Rp 70 per saham pada 25 Oktober 2001. Total saham menjadi sekitar 38,75 miliar saham.
  • Untuk membereskan utang, BNBR menawarkan restrukturisasi melalui debt to equity swap kepada ratusan kreditur yang dikoordinasi oleh Westdeutche Bank. Para kreditur ini membentuk holding sebagai master special purpose vehicle (MSPV) hingga menguasai 80% aset di lima anak usaha, yaitu UNSP, Bakrie Electronics Company, Bakrie Kasei Corp, Arutmin Indonesia dan Iridium LLC. Akibatnya saham keluarga Bakrie tinggal 2,92%.
  • BUMI masuk ke bisnis batu bara dengan mencaplok Arutmin Indonesia senilai US$185 juta dari BHP Billiton. Untuk mendanai aksi itu, Bakrie mendapat pinjaman dari pinjaman Bank Mandiri dan Jamsostek. Pada periode ini, BUMI berganti nama menjadi PT Bumi Resources Tbk.
2003

2003-2004

  • BUMI membeli Kaltim Prima Coal (KPC) senilai US$ 500 juta dari Rio Tinto dan BP Plc, lebih rendah dari penawaran sekitar US$ 800 juta. Bakrie mengungguli tawaran pemerintah, Prabowo Subinto, Grup Salim, dan yang lain.
  • Aburizal Bakrie bilang saat mencari dana untuk KPC, Bank Indonesia tak mengizinkan bank memberi kredit ke Bakrie. Sepertinya ini terkait utang Bakrie untuk membeli Arutmin yang belum lunas. Beruntung, bank di Singapura mau meminjamkan US$ 413 juta. Spekulasi yang beredar, bank yang dimaksud adalah Credit Suisse AG cabang Singapura.
  • Total dana akuisisi US$ 700 juta. Kekurangan dana tertolong dari pelanggan KPC di Jepang, Tiongkok dan Eropa yang mau membayar uang muka pembelian batubara meski KPC belum resmi milik BNBR.
  • PT Energi Mega Persada (ENRG) IPO di BEI 26 Mei 2004
2005

2005-2007


  • BNBR melakukan reverse stock 5:1 sehingga total saham menjadi sekitar 7,75 miliar lembar saham pada 28 Februari 2005
  • BNBR menerbitkan sekitar 19,22 miliar lembar saham baru (Seri C) senilai Rp 100 per saham. Total saham menjadi sekitar 26,97 miliar saham pada 29 Maret 2005
  • PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) IPO di BEI pada 3 Februari 2006
  • PT Darma Henwa (DEWA) IPO di BEI pada 26 September 2007
2008

2008

  • BNBR membutuhkan dana Rp 48,4 triliun untuk melakukan akuisisi internal terhadap 35% saham BUMIi, 40% saham ENRG dan 40% saham ELTY. Kebutuhan dana ditutup dengan hasil penerbitan saham baru (Seri C) sekitar 80,24 miliar lembar saham seharga Rp 500 per saham. Penerbitan saham pada 17 Maret 2008 itu, menghasilkan Rp 40,1 triliun. BNBR tertolong pinjaman dari Barclays Capital senilai Rp 8,3 triliun untuk menutup kekurangan kebutuhan dana.
  • Pada April BNBR menggadaikan saham BUMI ke Oddickson Finance untuk mendapat pinjaman Rp 10,91 triliun. Bakrie juga menggadaikan saham ENRG, ELTY, UNSP dan BTEL.
  • Pada 7 Oktober BEI menghentikan sementara perdagangan (suspensi) saham BNBR, ELTY, BUMI, ENRG, UNSP dan BTEL karena harga saham ambruk sampai 30%. Rumor gadai saham menjadi pemicu.
  • Pada 12 Oktober saham kelompok Bakrie terus terjun bebas. BNBR kesulitan menebus saham anak usaha yang digadaikan. BNBR lalu menjual sebagian saham anak usaha untuk menutup utangnya senilai US$ 1,2 miliar terkait gadai saham tersebut. BNBR menandatangani kesepakatan jual-beli 35% atau 6,79 miliar saham BUMI dengan Northstar Pacific senilai Rp14,36 triliun. Northstar mendapat dukungan dari perusahaan private equity fund terbesar ketiga di dunia, Texas Pacific Group (TPG).
  • Pada 13 Oktober Keluarga Bakrie dikabarkan meminta bantuan para pengusaha dan investor untuk menutup utang triliunan rupiah dengan berniat menjual BUMI. Beberapa investor yang kabarnya ditawari BUMI seperti Avenue Capital, Putera Sampoerna, Tomy Winata dan Ancora. Tak cuma itu konsorsium perusahaan negara yakni Aneka Tambang, Bukit Asam dan PT Timah dikabarkan juga akan "membantu" membeli saham BUMI. Namun niat ini tak terealisasi.
  • Pada 16 Oktober BNBR menjual 15,3% saham ELTY kepada Avenue Luxembourg SARL senilai US$ 46 juta dan menjual 5,6% saham UNSP kepada Longines Offshore melalui The Royal Bank of Scotland senilai US$ 10 juta.
  • BNBR meminta secara khusus kepada BEI agar suspensi saham mereka diperpanjang hingga akhir bulan atau sampai transaksi penjualan anak usaha BNBR senilai US$ 1,2 miliar rampung. Permintaan BNBR memicu polemik antara pemerintah SBY-JK dengan Sri Mulyani yang kala itu menjabat sebagai Meteri Keuangan. Sri Mulyani menuding pemerintah mengintervensi pasar modal. Pemerintah mengabulkan permintaan Bakrie sehingga ELTY, UNSP dan BTEL baru diperdagangkan kembali 16 Oktober 2008. BUMI diperdagangkan lagi 5 November. Kalau ENRG & BNBR diperdagangkan lagi 17 Novermber 2011.
2009

2009


BUMI mendapat suntikan dana dari CIC senilai US$ 1,9 miliar dengan menjaminkan anak usaha seperti PT Arutmin Indonesia, PT Kaltim Prima Coal, IndoCoal Resources (Cayman) Ltd, PT IndoCoal Kalsel Resources dan PT IndoCoal Kaltim Resources. Ini adalah utang berbunga tingg 19% per tahun.

2010

2010

  • Tukar guling saham Vallar Plc dengan BUMI di bursa London senilai US$ 3 miliar. Vallar Plc yang kemudian berganti nama menjadi Bumi Plc, merupakan perusahaan investasi milik Nathaniel Rothschild. Melalui Bumi Plc, Rothschild mengakuisisi 29,2% saham BUMI dari dua pemegang sahamnya, BNBR serta Long Haul Holdings Ltd (Grup Bakrie). Sebagai imbalan, Grup Bakrie menguasai 47,6% saham Bumi Plc sekaligus menjadi pemegang saham pengendali dan mereka bisa mendapatkan likuiditas dari bursa London.

  • PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) IPO di BEI 6 Agustus 2010
  • Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) IPO di BEI 9 Desember 2010
2011

2011

  • Pada Maret 2011 Grup Bakrie berutang ke sindikasi 10 kreditur yang dikoordinasi Credit Suisse AG sebesar US$ 1,35 miliar. BNBR memperoleh US$ 601,75 juta dan Long Haul Holdings Ltd mendapat US$ 743,25 juta. Utangan didapat dengan menjaminkan sekitar 50 juta lembar saham Bumi Plc dengan harga minimum £ 8,50. Jika saham Bumi Plc berada di bawah harga £ 8,50, Grup Bakrie harus menambah jaminan atau melakukan top up.
  • BNBR dikabarkan mendapat pinjaman dari Glencore International Plc senilai US$ 900 juta untuk melunasi sebagian dan membiayai utang {refinancing) utang senilai US$ 597 juta ke sindikasi Credit Suisse yang terjadi Maret 2011. Kreditur dalam sindikasi tersebut meminta percepatan pembayaran karena harga saham Bumi Plc di Bursa Efek London turun tajam. Jatuh tempo utang sebenarnya Maret 2012. BNBR memberi sejumlah imbalan kepada Glencore. Antara lain tambahan hak pemasaran batubara kepada Glencore dan jaminan saham Bumi Plc. Termasuk opsi Glencore untuk mengonversi pinjaman menjadi saham Bumi Plc jika Grup Bakrie tidak membayar utang dan hak memperluas pemasaran hingga mencakup hasil tambang BRMS.
  • Desember 2011, Grup Bakrie menjual separuh kepemilikan sahamnya atas Bumi Plc kepada PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN) senilai US$ 1 miliar. Samin Tan adalah pemilik BORN. Samin mendapatkan dana dengan meminjam dana ke sindikasi yang diketuai Standard Chartered dengan menjaminkan saham PT Asmin Koalindo Tuhup, salah satu aset utama BORN dan saham Bumi Plc itu sendiri. Nilai jaminan mencapai US$ 2,7 milyar atau dua kali lipat lebih dari ilai pinjaman. Konon dalam hal ini BNBR sengaja meminjam tangan Samin karena bank sudah mulai kehilangan kepercayaan padanya. BNBR menggunakan sebagian dana untuk membayar utang ke Credit Suisse yang totalnya US$ 1,35 miliar.
  • Transaksi Bumi Plc menyebabkan Grup Bakrie dan BORN masingmasing memegang 23,8% saham Bumi Plc. Samin lalu menjadi chairman Bumi Plc, menggantikan Indra Bakrie yang kemudian menjadi co-chairman. Nathaniel yang sebelumnya sebagai cochairman 'turun derajat' menjadi direktur non-eksekutif.
  • PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) IPO di BEI 21 November 2011
2012

2012-2013

  • Pada 12 Januari 2012 BNBR Long Haul Holding Ltd berutang US$ 437 juta ke sindikasi 20 kreditur yang dikoordinasi Credit Suisse AG, cabang Singapura sebagai structuring agent dengan skema term loan facility. Untuk memperoleh pinjaman ini, Grup Bakrie menjaminkan 47,6% saham Bumi Plc. BNBR memperoleh utang sekitar US$ 194 juta dan sisanya mengalir ke Long Haul.
  • Nathaniel mempertanyakan pengelolaan perusahaan BUMI. Dia meminta manajemen BUMI melakukan "pembersihan radikal" organisasi maupun utang dan sempat memprotes penjualan 23,8% saham Bumi Plc ke BORN.
  • Pertarungan Nathaniel dan Grup Bakrie makin memanas untuk memperebutkan Bumi Plc. Keduanya saling mengajukan proposal. Grup Bakrie mengajukan penukaran 23,8% saham Bakrie di Bumi Plc dengan 10,8% saham BUMI yang dikuasai Bumi Plc, plus pembelian tunai sisa saham BUMI senilai US$ 278,3 juta. Lagi-lagi Credit Suisse menjadi dewa penyelamat karena Grup Bakrie mengaku mendapat dukungan dari bank ini untuk kebutuhan dana pembelian kembali BUMI di Bumi Plc. Sementara untuk pembelian saham BRAU yang dikuasai Bumi Plc senilai US$ 947 juta, Grup Bakrie meminta waktu hingga 11 April 2013.
  • Nathaniel mendapat dukuangan dari Hashim Djojohadikusumo, adik Prabowo Subianto. Ingat, Prabowo adalah salah satu pengusaha yang gagal memenangkan KPC.
  • Tak mau kalah, menjelang tiga hari RUPS Bumi Plc 21 Februari 2013, Recapital Group (PT Recapital Advisors dan PT Bukit Mutiara) menjual sekitar 24,2 juta lembar saham Bumi Plc ke tiga pihak: Avenue Luxembourg S.A.R.I (sekitar 13,67 saham), Argyle street Management Limited (sekitar 7,54 juta saham) dan Flaming Luck Investment Limited yang dikendalikan oleh Harry Tanoesoedibjo (3 juta saham). Grup Bakrie juga berharap pemerintah mau kembali menjadi dewa pennyelamat dengan merengek agar dilakukan mandatory tender offer (MTO) untuk Bumi Plc sambil mengembuskan isu nasionalisme.